Bingkai Mimpi

Oleh Vynna Alviolina Indriyana

KRIIINGGG! Jarum di jam bekerku menunjukkan pukul 5 tepat. Aku segera bangun dan merapikan tempat tidur. Seperti biasa aku mandi dan bersiap untuk sekolah. Hari ini hari Rabu, hari yang paling kubenci. Bagaimana tidak, pelajaran hari ini sangat sukar menurutku, IPS pada jam pertama dan kedua, IPA pada jam ketiga dan keempat, Bahasa Indonesia pada jam kelima dan keenam, terakhir Bahasa Inggris pada jam ketujuh dan kedelapan. Jika saja salah satu pelajaran diganti dengan pelajaran yang lebih ringan seperti SBD atau agama pasti aku tidak akan membenci hari Rabu.

Sebelum berangkat ke sekolah, aku sarapan dan mengecek buku untuk dibawa ke sekolah, tidak lupa juga berpamitan kepada kedua orangtuaku. Jarak rumah dan sekolahku terbilang lumayan dekat. Setiap hari aku pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Selain hemat ongkos, jalan kaki sangat bagus untuk kesehatan.
Aku sampai di sekolah sekitar jam 7, di sekolahku jam pertama mulai pukul jam 7.20 sehingga bagi siswa yang rumahnya cukup jauh tidak perlu buru-buru datang ke sekolah. Di kelasku sudah ada beberapa temanku. Setiap pagi topik yang dibahas di kelas selalu sama ‘ada PR atau tidak’

“Hari ini ada PR tidak?” tanyaku kepada Susan.
“Ada, PR bahasa Indonesia membuat cerpen.”
“Memangnya ada PR ya?” Tanya temanku Doni
“ Iya, coba saja kamu cek buku tulis kamu.”
Aku juga mengecek buku tulisku, ternyata memang sudah tertulis PR MEMBUAT CERPEN UNTUK MINGGU DEPAN. Padahal sengaja aku tulis huruf kapital semua agar tidak lupa, tapi ternyata seperti biasa aku selalu lupa dengan tugas-tugasku. Lagi-lagi terpaksa aku harus tancap gas untuk mengerjakan semua tugas hari ini. Aku langsung buru-buru mengerjakan PR itu, tidak harus bagus yang penting selesai.
Aku memang tidak terlalu suka mengerjakan PR atau tugas. Aku lebih suka berselancar di dunia maya dan memainkan gitar kesayanganku daripada mengerjakan tugas. Kadang aku berpikir, mengapa hidup harus dibuat susah, hidup yang penting bahagia. Oleh karena itu, aku sering lupa dengan PR dan tugas-tugasku, mengerjakan PR di sekolah adalah hal biasa bagiku. Aku berani melakukan ini karena teman-temanku juga tak berbeda jauh. Setidaknya jika aku ketahuan tidak mengerjakan PR dan dihukum, maka aku tidak sendirian.
Sekitar sepuluh menit kemudian aku sudah selesai membuat cerpen, tepat bersamaan dengan bunyi bel masuk. Guru IPS-ku masuk ke kelas, Bu Novi namanya. Beliau adalah guru yang baik, sayangnya beliau sering melakukan razia rambut. Bukannya aku tidak suka berambut pendek, hanya saja aku lebih suka dengan gaya rambutku dengan sedikit jambul yang menurutku membuat penampilanku lebih keren. Materi yang dibahas kali ini adalah perubahan sosial di era globalisasi, dibandingkan dengan sejarah aku lebih suka sosiologi dalam IPS. Dua jam pelajaran akhirnya berlalu, sebelum ke kelas lain Bu Novi memberi PR berupa 10 soal uraian. “Ah, mengapa harus ada PR padahal aku sudah paham?” kataku dalam hati, sebal.

Pelajaran selanjutnya IPA, materi yang dibahas adalah pewarisan sifat, “Mengapa sih harus belajar ini? Bukankah genetik manusia tidak bisa diubah. Lagipula itu juga takdir dari Tuhan. Kita tinggal terima saja, tidak perlu dipelajari dengan susah payah seperti sekarang ini,” rutukku dalam hati.
“Adit, sedang apa kamu?” suara Bu Aryani menyadarkanku dari lamunanku. Selama dua jam pelajaran aku memerhatikan Bu Aryani dengan tidak serius, masuk telinga kiri keluar telinga kanan, seperti itulah kira-kira.
Hal yang paling kutunggu setelah jam keempat adalah waktu istirahat. Senang sekali rasanya. Aku bisa jajan dan mengobrol dengan teman-temanku. Tiga puluh menit terasa begitu cepat, bel masuk sudah terdengar. Saatnya jam pelajaran bahasa Indonesia. Bu

Titi begitu masuk langsung meminta kami untuk mengumpulkan tugas. Untung saja tadi aku sempat mengerjakannya.
“Siapa yang tidak mengerjakan tugas?” seisi kelas terdiam, kami memang sudah mengerjakannya.
“Tidak ada? Bagus kalau begitu. Kalian mengerjakannya di rumah atau di sekolah?” tanya Bu Titi penuh selidik.
Aku langsung panik mendengar pertanyaan Bu Titi. Bagaimana jika aku ketahuan? Pikiranku berkecamuk. Kuedarkan pandangan ke sekelilingku. Terlihat Doni masih sibuk dengan buku tugasnya. Aku tersenyum karena mendapatkan sekutu jika ketahuan dan dihukum oleh Bu Titi.
“Di rumah, Bu,” Suara teman-temanku kompak, keras sekali.
Aku tidak ikut menjawab pertanyaan Bu Titi. Aku memang orang yang kurang bertanggung jawab pada tugas atau PR, tetapi aku paling tidak suka berbohong. Jadi, kuputuskan untuk diam saja. Setelah tugas cerpen dikumpulkan ke meja guru, kami melanjutkan materi bahasa Indonesia yaitu iklan baris, iklan yang disingkat-singkat. Itulah yang kutangkap dari penjelasan Bu Titi. Biasanya setiap materi Bu Titi selalu memberikan tugas. Benar saja beliau menyuruh kami membuat lima iklan baris. Aduh, malas sekali rasanya! Aku melirik ke arah teman-temanku, waktu pelajaran bahasa Indonesia tinggal 10 menit lagi. Lagi-lagi aku tersenyum menang. Nampaknya tugas ini tidak akan dikumpulkan hari ini karena banyak yang belum selesai. Aku sendiri baru membuat 1 iklan baris.“Ah, nanti kubisa mencari dan menyalin dari internet,” pikirku.

Jam keenam dan ketujuh diselingi waktu istirahat kedua. Waktu istirahat ini juga dimanfaatkan oleh para siswa yang beragama muslim untuk salat zuhur, termassuk aku. Pelajaran terakhir yaitu bahasa Inggris, kami mempelajari elliptical conjunction. Bahasa Inggris adalah pelajaran kesukaanku sehingga aku lebih mudah memahaminya. PR lagi PR lagi, membuat 12 kalimat dengan pola tenses yang berbeda-beda dan menggunakan elliptical conjunction. TEEETTTTT!!! Akhirnya, bel pulang terdengar juga. Sorak kemenangan menggema dalam hatiku. Bel pulang sekolah laksana pengikraran proklamasi pada zaman kemerdekaan. Merdeka. Benar-benar merdeka.
Kulangkahkan kaki menuju rumah. Seperti biasa, aku berjalan sendirian. Bukan karena tak mempunyai teman, tetapi memang teman-temanku tidak ada yang berjalan kaki pulang. Mereka pulang dijemput orang tuanya atau naik kendaraan umum.

Di perjalanan pulang, kulihat seorang anak kecil di pinggir jalan sambil mencari-cari sampah. Ia mengambil sampah plastik di jalanan dan memasukkannya ke dalam karung di puggungnya. Ternyata ia tidak sendiri, ada seorang anak lagi yang datang menghampirinya. Mereka lalu tertawa bahagia dan berjalan bersama.

“Coba saja aku seperti anak kecil itu, aku tidak harus repot-repot memikirkan tugas atau ulangan. Hidupku bahagia dari hal-hal sederhana,”aku membatin.
Akhirnya, sampai juga aku di rumah. Aku langsung masuk dan mencium tangan ibuku, lalu aku berganti baju dan menuju ke kamar. Hari itu berjalan seperti hari-hari lainnya. Aku berselancar di dunia maya, melihat berita dan bermain media sosial dengan teman-temanku. Hal yang tak pernah kulewati ialah bermain gitar kesayanganku. Hari ini aku memainkan dan mempelajari lagu I’m Yours karangan Jason Mraz. Malamnya aku ikut bimbingan belajar dekat rumah. Namun, hari in aku sangat lelah sehingga aku tidak terlalu paham dengan materi yang disampaikan. Toh, bimbel juga hanya tambahan. Sepulang dari bimbel aku langsung mencuci muka dan segera tidur.
“Selamat malam, Yah, Bu.” sapaku kepada mereka dan langsung menuju kamar untuk tidur.
Aku membuka mataku karena cahaya yang silau menusuk mata.. Samar-samar kulihat mathari sudah lumayan tinggi dan akhirnya semakin jelas ada dua anak laki-laki di hadapanku.

♣♣♣♣♣♣

“AAAAAA, siapa kamu? Di mana aku? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku kebingungan.
“Ada apa denganmu, Dit? Biasanya tidak seperti ini,” kata anak yang berambut lurus bingung.
“Iya, Kak Adit, mengapa kebingungan seperti itu?” kata anak satunya lagi yang berambut keriting.
Lama-lama aku mengenali kedua anak itu. “Tidak mungkin! Mereka anak yang kulihat di pinggir jalan kemarin. Apa itu artinya aku menjadi pemulung? Tidakkkk, apakah aku bermimpi? Tolong bangunlah,”pintaku dalam hati. Namun, mengapa mimpi ini belum berakhir juga. Aku benar-benar tidak percaya dan kebingungan. Akhirnya, aku pasrah dan menerima keadaan ini.
“Maaf aku lupa, siapa nama kalian?”
“Aku Aldi, ini kakakku, Kak Aldo,” kata anak yang berambut keriting.
“Sudah ayo, cepat bangun Dit, nanti kesiangan kita harus mengejar target agar bisa makan hari ini.” ajak Aldo.
“Tunggu sebentar, bagaimana aku bisa tinggal bersama kalian?” tanyaku kepada mereka.
“Kamu benar-benar tidak ingat, Dit? Seminggu yang lalu kami menemukanmu sedang menangis di pinggir jalan itu,” jelas Aldo sambil menunjuk jalan yang ada di seberang. “kamu bercerita bahwa kini kamu hidup sebatang kara. Ayah dan ibumu meninggal karena sakit, tak kuat menanggung beban hidup. Ayahmu terlibat banyak utang karena tertipu oleh rekan bisnisnya. Pamanmu yang tersisa dari

keluarga kalian, tidak peduli terhadapmu. Sekolahmu putus begitu saja karena kamu tidak sanggup membayar sekolah di lingkungan elite. Kini kamu tinggal sendiri, tak punya tempat tinggal karena rumahmu disita oleh bank. Kami merasa iba terhadapmu. Kami mengajakmu untuk tinggal bersama kami. Seperti inilah selanjutnya,” terangnya panjang lebar.

Begitu dramatis hidupku. Kupikir ini hanya sebuah mimpi atau mungkin aku terlalu rindu dengan kedua orang tua dan aktivitasku di sekolah walaupun membosankan sampai-sampai terbawa mimpi. Entahlah yang mana mimpi sebenarnya. Yang jelas saat ini aku harus melanjutkan kisah hidupku di sini, di sebuah rumah kumuh. Bisa dibilang rumah ini tak layak dihuni. Rumah ini hanya tersusun dari kardus dan triplek tua yang terdiri dari sebuah ruangan kecil. Kulihat mereka mengambil karung di pojok ruangan ini dan tersisa satu, punyaku.
Mereka keluar dari rumah ini dan aku pun mengukuti mereka. Rasanya aku pernah melihat daerah ini tapi aku lupa di mana ini. Mereka memgumpulkan sampah di pinggir jalan begitu juga denganku. Setiap langkah dan tetes keringat sangat melekat di memoriku. Beberapa waktu kemudian aku sudah sangat lelah dan kehausan. Berbeda halnya dengan Aldo dan Aldi. Mereka sangat bersemangat menjalani hidup yang menurutku sangat sulit ini.

Mungkin mereka sudah terbiasa mengingat mereka sudah lama hidup tanpa orang tua.
”Semangat Dit, kalau karungnya sudah penuh baru kita membeli minum,” ucap Aldo tersenyum dan memberi semangat kepadaku. Kulihat isi karungku baru terisi sepertiganya, sedangkan mereka sudah lebih dari setengahmya. Aku harus bergegas dan tak boleh kalah dengan mereka.
Beberapa waktu kemudian karung kami terisi penuh. Kami pun menuju sebuah tempat pengumpulan sampah. Setiap karung kami dihargai tiga ribu rupiah. Sangat sedikit dibandingkan dengan perjuangan yang harus ditempuh untuk mendapatkan sekarung sampah.

“Alhamdulillah, terima kasih, Pak,” ucap mereka nyaris bersamaan dan penuh syukur. Terbesit rasa kekaguman kepada kedua kakak beradik ini. Apapun yang terjadi, mereka jalani dengan penuh semangat dan rasa syukur. Sepanjang perjalanan kami memungut sampah tadi, tak pernah kudengar keluhan terlontar dari bibir mungil mereka.
“Ayo, Dit, sekarang kita beli minum,” ajak Aldo. Kami berhenti di sebuah warung dan membeli air untuk diminum bersama-sama.

“Nah, sekarang kita lanjut lagi ya,” ujar Aldo. Aku terkejut. Kami baru saja jalan sangat jauh untuk mengumpulkan sampah dan istirahat sebentar, tetapi sekarang harus lanjut lagi?
“Tapi Do, aku sangat lelah, bagaimana jika kita pulang saja?”
“Baiklah tapi nanti kita hanya makan sedikit ya,” kata Aldo.
“Iya. Yang penting sekarang kita pulang saja untuk beristirahat.
“Bagaimana, Dik?” tanya Aldo kepada adiknya.
“Iya, terserah kakak saja.”
Akhirnya, kami pulang ke rumah tua tadi. Namun, kami tidak melewati jalan yang tadi kami lewati. Aku pun tersadar dan mulai mengenali jalan ini. Ini adalah jalan menuju sekolahku! Apakah kami akan melewati sekolahku. Pikiranku kacau, napasku memburu. Benar saja, kami melewati sekolahku, saat itu bertepatan dengan jam pulang sekolah. Aku melihat teman-temanku keluar dari sekolah, ingin sekali aku menyapa mereka. Namun, mereka pasti tidak mengenaliku, pakaianku lusuh, dan mukaku kumal, bisa jadi aku akan dikira orang aneh dan dicurigai.
“Enak ya, Kak, mereka bisa sekolah.” ucapan Aldi mengagetkanku.
“Sabar ya Dik, kalau orang tua kita masih hidup sekarang pasti kita masih bisa bersekolah. Adik yang sabar, ya? Kita harus ikhlas menerima takdir.” kata Aldo pilu. Hatiku luluh mendengar ucapannya itu. Aku ingin sekali menangis, tetapi aku tidak bisa menunjukkannya di depan mereka. Aku hanya dapat menyesal betapa beruntungnya aku yang sudah dapat mengenal pendidikan. Akulah yang tidak bersyukur dan menyia-nyiakan waktuku dahulu. Aku terlalu fokus mengeluh ini dan itu. “Maafkan aku, Tuhan,” sesalku membatin. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Andai bisa kuputar waktu, tak ingin lagi kusia-siakan waktu terbuang percuma.

♣♣♣♣♣♣

KRRIIINGGGGG! Aku terbangun mendengar bunyi itu. Ternyata, jam bekerku berbunyi seperti biasanya di pukul 5 tepat. Aneh, mengapa aku berada di kamarku? Apakah aku mimpi kembali? Kutepuk-tepuk kedua pipiku. Sakit. Berarti ini nyata. Alhamdulillah, aku kembali. Untung saja kehidupanku dengan Aldo dan Aldi tadi hanya mimpi. Aku mandi, dan bersiap-siap ke sekolah. Aku sekarang sadar dan berjanji untuk tidak pernah mengeluh. Aku harus belajar lebih giat lagi. Kujalani segala aktivitas di sekolah dengan penuh semangat dan tanpa keluhan, tak seperti biasanya.
Bel pulang berbunyi, dan para siswa keluar sekolah. Aku sangat senang bisa belajar hari ini. Aku memerhatikan guru dengan baik. Itu sangat mengasyikkan. Ilmu yang kudapat hari ini jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Ternyata, mudah ataupun susah itu tergantung dari pikiran kita. Di perjalanan pulang, aku melihat dua anak laki-laki. Mereka adalah Aldo dan Aldi yang semalam hadir dalam mimpiku. Aku ragu untuk menghampiri mereka. Namun, rasa penasaran mengalahkan keraguanku. Aku pun memberanikan diri untuk menghampiri mereka.
”Bukankah kalian Aldo dan Aldi?” tanyaku kepada mereka.
”Iya, bagaimana kamu bisa tahu?” Kata Aldo.
“Ah, sudah tidak penting bagaimana aku tahu. Perkenalkan namaku Adit. Sekarang mampir ke rumahku, yuk! Sepertinya hari ini ibuku telah memasak makanan yang enak. Ada yang ingin kuceritakan juga kepada kalian. Mau ya ikut ke rumahku?” pintaku kepada mereka.
“Benar kak? Wah senang sekali. Ayo Kak Aldo kita ke rumah Kak Adit.” kata Aldi antusias.
Sesaat Aldo nampak ragu. Namun, keraguannya kalah dengan wajah penuh harap dan kegembiraan adiknya. Kami pun menuju rumahku. Sepanjang perjalanan, aku bercerita tentang mimpiku semalam. Kami semua tampak heran. Sulit memang jika diuraikan secara logika. Namun, satu hal yang pasti, kami bisa mengambil hikmahnya. Mungkin Tuhan menegurku melalui sebuah bingkai mimpi. Lewat bingkai mimpi itu aku bisa lebih bersyukur menjalani hidup. Melalui bingkai mimpi tersebut kami dapat berkenalan dan saling membantu. Terlebih lagi aku sangat bersyukur karena kedua orang tuaku masih hidup sehingga aku masih punya waktu untuk membanggakan mereka.

Sejak perkenalan kami melalui mimpi itu, kami pun menjadi sahabat. Ayah dan ibuku juga menyukai mereka. Aldo dan Aldi memang anak yang baik dan sopan. Berkat mereka aku berubah menjadi lebih baik. Hal ini pun disadari oleh kedua orang tuaku. Wajar saja jika kedua orang tuaku menyukai dan iba kepada mereka. Bahkan ayah berencana akan mengangkat mereka sebagai anak dan menyekolahkan mereka di tempatku. Mulai saat itu, kujalani hari-hari bersama mereka dan penuh rasa syukur. Kini aku menjadi pribadi baru yang lebih baik. aku menjadi rajin dan tidak pernah malas mengerjakan tugas/PR yang diberikan oleh Ibu/Bapak guru. Aku sadar bahwa masih banyak orang di luar sana yang ingin bersekolah. Hidupku sudah sangat beruntung karena dapat bersekolah di tempat yang bagus. Oleh karena itu, aku harus giat dan semangat.