Pudarnya Toleransi Antarumat Beragama di Indonesia

Oleh Danang Aditya Rahman (SMPN 1 Tambun Selatan) 

Indonesia merupakan negara dengan beragam agama. Data BPS 2010 menyatakan bahwa 87,17% dari 237.641.326 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam; 6,96% Protestan; 2,9% Katolik; 1,69% Hindu; 0,72% Buddha; 0,05% Konghucu; 0,13% agama lainnya; dan 0,38% tidak terjawab. Selain itu, 12,7% penganut Islam dunia ada di Indonesia.

Predikat sebagai negara muslim menjadikan kehidupan sosial masyarakat Indonesia kental akan ajaran Islam. Hal ini dapat membuat agama minoritas di Indonesia merasa terdiskriminasi. Selain itu, kondisi kemajemukan agama di Indonesia rentan akan prasangka. Prasangka adalah kecurigaan/pemikiran negatif yang ditujukan dari satu pihak kepada pihak lainnya. Prasangka dapat timbul dari agama mayoritas maupun agama minoritas. Prasangka inilah yang rentan menimbulkan konflik.

Kuatnya prasangka membuat rasa toleransi semakin terkikis sehingga menimbulkan konflik. Konflik-konflik selama satu dekade terakhir, di antaranya: pembakaran 50 rumah warga Muslim Syiah di Madura (27/8/2012), konflik antargolongan agama di Lampung Selatan (27/10/2012), penistaan agama Hindu oleh seorang ibu rumah tangga di Jimbaran, Bandung (14/5/2013), pengeboman di Vihara Ekayana Buddhist Center, Jakarta Barat (4/8/2013), pembakaran rumah ibadah di Tolikara, Papua Barat (17/7/2015), pembakaran gereja di Aceh Singkil (13/10/2015), penghentian kebaktian rohani di Sabuga, Bandung (16/12/2016), penistaan agama Islam oleh seorang pejabat pemerintah di Jakarta (9/5/2017), pengeboman gereja di Surabaya dan Situbondo (13/5/2018), dan yang terbaru kasus penistaan agama Islam oleh seorang ibu rumah tangga di Tanjungbalai, Sumatera Utara (30/5/2018).

Dari kasus-kasus di atas ternyata prasangka justru banyak datang dari sekelompok oknum agama mayoritas. Prasangka karena kesalahan penafsiran ayat-ayat Alquran tentang jihad dan menganggap golongan agama lain merupakan musuh Islam ternyata menimbulkan pikiran dan gerakan radikal dari sekelompok oknum. Hal ini menyebabkan melekatnya label teroris dalam diri umat Islam.

Oknum teroris yang mengatasnamakan Islam berpikiran bahwa mereka melakukan Jihad fii sabilillah. Ini merupakan kesalahkaprahan dalam penafsiran tentang jihad itu sendiri. Kesalahan penafsiran tersebut merupakan akibat dari kurangnya ilmu (ilmu yang tidak digurukan). Ibnu Taimiyah mendefinisikan bahwa jihad artinya mengerahkan seluruh kemampuan yaitu kemampuan mendapatkan yang dicintai Allah dan menolak yang dibenci Allah. Hal ini menunjukan bahwa jihad merupakan usaha kita untuk melakukan kebaikan atau mendapatkan rida Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Jihad tidak bisa langsung diartikan terhadap hal-hal yang berbau kekerasan dan perang. Dengan melakukan kekerasan, pembataian, pembakaran, dan pengeboman sangat jauh dari konsep sejatinya jihad dan hakikat agama Islam itu sendiri sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. Islam bukanlah agama teroris. Islam adalah agama yang cinta damai. Jadi, istilah Islam sebagai agama teroris hanyalah prasangka dari orang-orang tertentu.

Sebenarnya prasangka dan keberagaman agama di Indonesia bukanlah suatu momok jika kita mau menerapkan sikap toleransi secara kontinu. Toleransi adalah sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi menghindarkan terjadinya diskriminasi. Sebenarnya sikap toleransi sudah digaungkan sejak dulu. Marilah kita berkaca pada sejarah Kerajaan Majapahit. Dalam kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca menceritakan bahwa Raja Hayam Wuruk sangat menerapkan sikap toleransi antarumat beragama di wilayah Majapahit. Bahkan semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika pun berasal dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular yang juga berasal dari Majapahit. Seandainya seluruh umat beragama dapat menerapkan sikap saling bertoleransi dan bekerja sama tentu tragedi-tragedi kemanusiaan tidak akan terjadi di Indonesia. Apapun alasannya intoleran merupakan sikap yang salah dan tidak diajarkan dalam agama manapun. Ketika kita dapat menerapkan sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari niscaya persatuan dan kesatuan bangsa akan semakin kuat dan Indonesia dapat menjadi negara yang hebat.

 

Daftar Pustaka

Ali, Muhammad. 2003. Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan Menjalin Kebersamaan. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

Fatonah, Khusnul dan Zhilal el Furqan. 2014. Pendidikan Multikultural Berbasis Masyarakat: Upaya Pengurangan Prasangka di Tengah Kemajemukan Masyarakat Indonesia (artikel dalam jurnal The Ary Suta Center Series On Strategic Management vol. 27). Jakarta.

Saputra, Lukman Surya, dkk. 2016. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan SMP/MTs Kelas VII Edisi Revisi 2016. Jakarta: Kemdikbud.

Syahbana, Rabian. Toleransi Beragama, Perlukah? (kolom opini dalam surat kabar Bangka Pos pada Selasa 21 Juli 2015).

https://muslim.or.id/4041-memahami-arti-jihad.html (diakses pada 24/08/2018, pukul 21.05 WIB).

https://hukamnas.com/contoh-konflik-antar-agama (diakses pada 25/08/2018 pukul 19.32 WIB).