Demokrasi dalam Bingkai Kebhinnekaan

Oleh Danang Aditya Rahman

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara bhineka. Hal ini didukung oleh data BPS pada 2010, yang menyatakan bahwa Indonesia memiliki 258 juta jiwa penduduk, 1.340 suku bangsa, lebih dari 300 etnik, dan 700 bahasa daerah. Kebhinekaan Indonesia ini sudah lama terikat dalam semangat persatuan dan kesatuan yang terikrar dalam semboyan bangsa Indonesia, “Bhinneka Tunggal Ika“, yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Keberagaman Indonesia sejatinya merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Namun, di tengah keberagaman tersebut seringkali timbul gesekan yang memicu konflik sehingga bukanlah hal yang mudah untuk menjaganya. Salah satu alat pemersatu keberagaman adalah demokrasi. Hal ini senada dengan ungkapan Mariane Farine, dosen di Howard University, dalam acara Seminar Internasional di UMJ (13/02/2009), yang menyatakan bahwa demokrasi merupakan salah satu jalan untuk mencapai sebuah kesepahaman antarbudaya bangsa.

Namun, apa yang terjadi dengan demokrasi di Indonesia sekarang? Kini pesta demokrasi dapat menjadi indikasi awal runtuhnya kebhinekaan Indonesia. Ajang saling serang, mengintimidasi, serta menghina. Contoh terhangat ialah perang tagar disertai ujaran kebencian serta tindakan intimidasi antarkelompok tagar di kawasan Car Free Day (CFD), Bundaran HI (29/4/2018). Hal ini jelas merusak makna demokrasi dan dapat menghancurkan kebhinekaan Indonesia.

Atas dasar itulah, tulisan ini berusaha menunjukkan peran demokrasi dalam bingkai kebhinekaan. Bagaimana cara kita menjadi masyarakat yang demokratis. Seberapa penting pula demokrasi yang sehat dapat mengukuhkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Pengukuhan Persatuan dan Kesatuan Bangsa melalui Demokrasi yang Sehat

Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang warga negaranya berhak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan dan kesetaraan berpolitik. Dalam hal ini, demokrasi mengamanatkan suatu kebebasan berpendapat dan berpolitik dengan memerhatikan norma-norma yang berlaku.

Jelang pemilu 2019 memang rentan akan konflik politik. Jika konflik dibiarkan terus-menerus akan berujung pada tindakan anarkis yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Kita dapat mencegah konflik dengan menyikapi secara bijak pemicu konflik tersebut. Pemicu konflik terkait pesta demokrasi di Indonesia saat ini, yaitu perang tagar disertai ujaran kebencian di berbagai media sosial serta tindakan intimidasi antarkelompok tagar. Contoh tagar-tagar tersebut, yakni #2019gantipresiden dan #jokowi2periode.

Pada dasarnya fungsi tagar di media sosial ialah untuk mempermudah pengguna media sosial mengikuti suatu topik atau perbicaraan yang diminati. Tagar memiliki peran besar dalam meramaikan percakapan dan menjadi trending topic. Sebenarnya tagar #2019GantiPresiden dan #Jokowi2Periode bukanlah suatu masalah karena Indonesia memang memperbolehkan rakyatnya untuk beropini, beraspirasi, dan berdemokrasi. Namun, yang menjadi masalah ialah ketika tagar-tagar tersebut disertai ujaran kebencian, dipadukan dengan berita palsu, diikuti tindakan mengintimidasi dan menyinggung SARA, serta disebarluaskan tanpa mengonfirmasi kebenarannya dan memperhitungkan akibatnya.

Tagar yang tidak disikapi secara bijaksana akan menimbulkan kecurigaan-kecurigaan atau prasangka negatif. Prasangka ini akan menjadi sangat berbahaya dan memicu konflik apalagi jika disentuh dengan hoax dan hatespeech. Salah satu contohnya ialah aksi saling mengintimidasi saat CFD di Jakarta Pusat (29/4/2018) hanya karena kaos yang bertuliskan tagar-tagar tersebut. Padahal kaos tersebut merupakan bukti kreativitas masyarakat Indonesia yang turut menyemarakkan pesta demokrasi. Namun, adanya prasangka atau kecurigaan tertentu dalam tagar tersebut sehingga menimbulkan konflik.

Demokrasi yang sehat dalam bingkai kebhinekaan memiliki tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama, martabat manusia (human dignity) dengan menghargai setiap HAM di tengah keberagaman. Kedua, kerja sama (collaboration) yang baik untuk mencapai tujuan bersama. Ketiga, kewenangan (empowerment) dengan meniadakan kekuasaan yang memengaruhi demokrasi.

Tindakan yang harus kita lakukan terkait fenomena keberagaman menjelang pemilu 2019, yakni pertama, cobalah jangan mudah terprovokasi terhadap apapun yang ada di media sosial, seperti isu tagar, hoax, dan hatespeech. Fokuslah untuk menggelar pesta demokrasi nanti secara sehat dan sportif. Selain itu, jadilah pengguna internet yang bijak dalam mengakses berita. Analisis dan carilah kebenaran berita tersebut. Jangan sampai kita menjadi penyebar berita hoax yang berbau ujaran kebencian.

Kedua, jangan jadikan tagar sebagai wadah menghina, atau mencela siapapun. Realita sekarang, tagar #2019GantiPresiden, cenderung berisi hinaan atau keburukan-keburukan rezim saat ini. Idealnya, tagar tersebut dapat dijadikan ajang berkreasi dalam demokrasi yang sehat. Tagar #2019GantiPresiden dapat menunjukkan adanya pesta demokrasi yang damai dan diidamkan jika di dalamnya terdapat opini tentang sistem pemerintahan ideal, berisi kritik dan saran yang membangun demi kemajuan Indonesia, serta memerhatikan kesantunan berbahasa, tanpa mencela pribadi/kelompok tertentu, apalagi menyinggung SARA. Begitu juga dengan tagar #Jokowi2Periode yang tak perlu menanggapi hinaan dari kubu lawan dengan ujaran kebencian pula. Sebagai pendukung sejati, buatlah tulisan yang santun tentang kebaikan-kebaikan tokoh yang didukungnya tanpa harus menyindir, menghina, apalagi memaksakan kehendak kepada pihak lain. Berikan dukungan yang sportif untuk menyemangati pemerintah saat ini agar lebih baik lagi.

Ketiga, jangan biarkan segala prasangka atau kecurigaan-kecurigaan menguasai diri kita. Tumbuhkan cara berpikir positif. Ketika prasangka tersebut berhasil dihilangkan maka hoax atau hatespeech semeyakinkan apapun tak akan mempan memengaruhi kita. Jadilah pribadi yang cerdas dan bijak dalam menyikapi fenomena sosial yang ada.

Pesta demokrasi merupakan suatu momen penting bagi khasanah pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Seperti halnya sebuah pesta yang menjadi ajang perayaan antusiasme kebebasan berpendapat serta berekspresi. Bukanlah menjadi ajang saling serang, menebar kebencian yang memicu konflik sehingga mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Jadikan pesta demokrasi sesuatu yang berkesan karena bisa jadi ini awal dari kemajuan Indonesia di masa depan.

Simpulan

Kebhinekaan Indonesia haruslah menjadi sebuah kekuatan dan kekayaan tersendiri. Demokrasi yang sehat merupakan salah satu alat pemersatu kebhinekaan Indonesia. Pesta demokrasi yang damai menjadi sarana untuk  memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. Indonesia telah mempertahankan segala kebhinekaannya selama 73 tahun. Tugas kita adalah melanjutkan terjaganya kebhinekaan dengan menjadi pribadi yang berkarakter mulia.

Kita haruslah pintar dalam menguasai situasi. Jangan biarkan situasi yang menguasai kita. Pemakaian tagar dalam bermedia sosial merupakan hal yang wajar jangan sampai diisi dengan hoax dan hatespeech sehingga menjadi tak wajar. Kebijaksanaan dan kecerdasan kita sangatlah diperlukan dalam bermedia sosial. Jangan mudah terprovokasi isu-isu yang belum jelas kebenarannya. Dengan demikian, Indonesia akan menjadi negara yang kuat dan maju.

 

Daftar Pustaka

Fatonah, Khusnul dan Zhilal el Furqan. 2014. Pendidikan Multikultural Berbasis Masyarakat: Upaya Pengurangan Prasangka di Tengah Kemajemukan Masyarakat Indonesia (artikel dalam jurnal The Ary Suta Center Series On Strategic Management vol. 27). Jakarta.

Kurniasih, Listiani Tular, dkk. 2017. Dongeng Kebhinekaan: Strategi untuk Menghargai Keberagaman di Indonesia Sejak Dini. (artikel dalam jurnal The Ary Suta Center Series On Strategic Management vol. 39). Jakarta.

Rosyada, Dede. 2005. Pendidikan Kewarganegaraan: Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani. Jakarta: Prenada.

https://kominfo.go.id/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya (diakses pada 14 Agustus 2018, pukul 17.37 WIB).

https://megapolitan.kompas.com/keributan-kelompok-#diasibukkerja-dan-#2019gantipresiden-saat0CFD-yang-berujung-laporan-polisi (diakses pada 19 Agustus 2018, pukul 19.01 WIB).

http://hminews.com/2009/02/uncategorized/demokrasi-menyatukan-budaya/ (diakses pada 19 Agustus 2018, pukul 20.23 WIB).